PPNI Pacitan : Maju, Profesional, Sejahtera PPNI Pacitan : Maju, Profesional, Sejahtera PPNI Pacitan : Maju, Profesional, Sejahtera

Keluhan dan Saran

DPD PPNI Pacitan memberi kesempatan kepada anggota PPNI Pacitan untuk menyampaikan keluhan dan sarang yang terkait organisasi, kegiatan organisasi, program, pelayanan keanggotaan, administrasi dan kebutuhan anggotanya.


Silahkan login disini :

KELUHAN DAN SARAN




MAKALAH JUSTIFIKASI KEMATIAN

MAKALAH JUSTIFIKASI KEMATIAN



BAB I
PENDAHULUAN
1.1   LATAR BELAKANG
Justifikasi kematian atau biasa dikatakan alasan atau penyebab kematian, seringkali diabaikan. Dari beberapa penelitian ditemukan bahwa ada beberapa penyebab kematian yang sebenarnya sering kita temukan namun kita abaikan.
Dalam makalah ini kami akan membahas beberapa hal yang diduga menjadi faktor penyebab kematian tertinggi diindonesia maupun didunia.
Dari bebrapa faktor tersebut, kemudian dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu kematian yang secara langsung diinginkan, dan kematian yang tidak diinginkan namun terjadi karena bebrapa alasan atau beberapa faktor.
1.2  TUJUAN
1.2.1    Tujuan Umum
Untuk mengetahui apa yang dimaksudkan dengan justifikasi kematian
1.2.2    Tujuan Khusus
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai sarana pembelajaran dan juga sebagai sumber pengetahuan mengenai justifikasi kematian dan beberapa faktor yang menjadi penyebabnya.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1                        Pengertian Justifikasi Dan Justifikasi Kematian
Justifikasi menurut KBBI : merupakan putusan (alasan, pertimbangan) berdasarkan hati nurani. Dengan demikian justifikasi kematian dapat diartikan sebagai sebuah alasan atau penyebab kematian.
Ada banyak hal yang mengakibatkan seseorang mengalami kematian, entah itu disengaja atau yang lazim disebut dengan bunuh diri, maupun karena faktor lain yang berasal dari luar keingan orang tersebut untuk meninggal.
Penyebab justifikasi sendiri, dibagi atas dua penyebab yaitu yang berasal dari keinginan orang itu sendiri maupun akibat hal-hal lain seperti penyakit, usia dan bahkan ajal.
2.2           Klasifikasi Justifikasi Kematian
A.Kematian Yang Berasal Dari Keinginan Individu Itu Sendiri
1.      BUNUH DIRI : Dari data WHO menunjukan bahwa rata-rata kurang lebih 800.000 orang diseluruh dunia, melakukan tindakan bunuh diri dari setiap tahunnya. Menurut Dr.Benedetto Saraceno  dari departemen kesehatan jiwa WHO, lebih dari 90% kasus bunuh diri berhungang dengan masalah gangguan jiwa seperti depresi, psikotik, dan ketergantungan zat (napza).Kondisi lain yang perlu mendapat perhatian adalah bunuh diri karena loyalitas berlebihan terhadap suatu (altruistic suicide) yang dilakukan dalam bentuk bom bunuh diri. Banyak ahli mengaitkan hal tersebut sebagai manifestasi dari akumulasi kekecewaan, perlakuan tidak adil, atau tersisihkan.
2.      EUTANASIA
Eutanasia adalah praktik pencabutan kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan.
B. Kematian Yang Berasal Dari Faktor Lain
Berikut akan dipaparkan beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab kematian antara lain:
1.        Usia
Usia merupakan hal yang lazim dijadikan penyebab kematian seseorang, walau kini usia yang muda tidak menjadi jaminan bahwa oseseorang tidak akan mengalami kematian.
2.        Masalah Napza Serta Dampaknya
Narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza) tergolong dalam zat psiko aktif yang bekerja mempengaruhi kerja sistem penghantar sinyal saraf (neurotransmiter) sel – sel susunan saraf pusat (otak) sehingga menyebabkan terganggunya fungsi kognitif (pikiran), persepsi , daya nilai (jugment), prilaku, serta dapat penyebabkan efek ketergantungan, baik fisik maupun psikis. Penyalahgunaan napza di indonesia sekarang sudah merupakan ancaman yang serius bagi kehidupan bangsa dan negara.
Pengungkapan kasusnya di indonesia meningkat rata – rata 28.9% per tahunnya. Tahun 2005, pabrik ekstasi terbesar ke-3 di dunia terbongkar di tanggerang, banten. Di indonesia di prediksi terdapat sekitar 1.365.000 kasus  penyalahgunaan napza aktif dan data perkiraan estimasi terakhir menyebutkan bahwa pengguna napza di indonesia mencapai 5.000.000 jiwa.
Mengikuti laju perkembangan kasus tersebut, dijumpai pula peningkatan epidemi penyakit hepatits C dan kasus HIV/AIDS yang modus penularannya melalui penggunaan jarum suntik yang tidak steril secara bergantian pada pengguna napza suntik (penasun) atau injecting drug user (IDU). Pola edemik HIV/AIDS di Indonesia tak jauh berbeda dengan negara – negara lain. Fase awal penyebarannya melalui kelompok homo seksual kemudian tersebar melalui pelaku seksual beresiko tinggi seperti pada pekerja sekskomersial. Namun, beberapa tahun belakangan ini di jumpai kecenderungan peningkatan secara cepat penyebaran penyakit ini diantara para penasun.
Berbagai sumber memperkirakan orang dengan HIV/ADIS ( ODHA) di Indonesia telah mencapai KL 120.000. orang dan sekitar 80% dari jumlah tersebut terinfeksi karena penggunaan jarum yang tidak steril dan di pakai secara bergantian pada para penasun. Jumlah penderita HIV/AIDS dari tahun 2000 – 2005 meningkat dengan cepat menjadi empat kali lipat atau sebesar 40%. Data pada akhir tahun 2005 menyatakan bahwa refelensi penularan HIV/AIDS pada penasun adalah 80 – 90%, artinya hampir 90% dari total penasun dipastikan telah terinfeksi HIV/AIDS (P.Djatmiko,2007)



2.3  Justifikasi Kematian di Indonesia
Penyebab dan tanda tanda Bayi Meninggal dalam kandungan:
Bagi ibu ibu yang sedang hamil selalu berharap dan berdo'a agar kandunganya selalu baik, dan janin yang dikandung selalu sehat. Namun ada beberapa ibu yang khawatir dengan kesehatan janinnya, apalai kasus kematian bayi dalam kandungan tidak sedikit. Banyak pertanyaan sebenarnya pa penyebab kematian bayi dalam kandungan serta apa tanda tanda bayi yang meninggal dalam kandungan. Berikut ini penjelasan lengkap tentang Penyebab dan tanda tanda bayi atau janin yang meninggal dalam kandungan. Kematian bayi dalam kandungan atau disebut Intra Uterin Fetal Death (IUFD), yaitu kematian janin dalam kandungan yang terjadi pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu atau pada trimester kedua. Apabila terjadi pada trimester pertama disebut keguguran atau abortus.

Penyebab :
1.      Hipertensi atau tekanan darah tinggi
2.      Preeklampsia dan eklampsia
3.      Perdarahan : plasenta previa dan solusio plasenta
Waspada jika ibu mengalami perdarahan hebat akibat plasenta previa (plasenta yang menutupi jalan lahir) atau solusio plasenta (terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya di dalam uterus sebelum bayi dilahirkan). Otomatis Hb janin turun dan bisa picu kematian janin.
4.      Kelainan kongenital (bawaan) bayi.
Yang bisa mengakibatkan kematian janin adalah hidrops fetalis, yakni akumulasi cairan dalam tubuh janin. Jika akumulasi cairan terjadi dalam rongga dada bisa menyebabkan hambatan nafas bayi. Kerja jantung menjadi sangat berat akibat dari banyaknya cairan dalam jantung sehingga tubuh bayi mengalami pembengkakan atau terjadi kelainan pada paru-parunya.
5.      Ketidakcocokan golongan darah ibu dan janin.
Terutama pada golongan darah A, B, O. Kerap terjadi golongan darah anak A atau B, sedangkan ibu bergolongan O atau sebaliknya. Pasalnya, saat masih dalam kandungan darah ibu dan janin akan saling mengalir lewat plasenta. Bila darah janin tidak cocok dengan darah ibunya, maka ibu akan membentuk zat antibodi.
6.      Janin yang hiperaktif.
Gerakan janin yang berlebihan, apalagi hanya pada satu arah saja, bisa mengakibatkan tali pusat yang menghubungkan ibu dengan janin terpelintir. Akibatnya,pembuluh darah yang mengalirkan suplai oksigen maupun nutrisi melalui plasenta ke janin akan tersumbat. Tak hanya itu, tidak menutup kemungkinan tali pusat tersebut bisa membentuk tali simpul yang mengakibatkan janin menjadi sulit bergerak. Hingga saatini kondisi tali pusat terpelintir atau tersimpul tidak bisa terdeteksi. Sehingga, perlu diwaspadai apabila ada gejalayang tidak biasa pada saat hamil.
7.      Gawat janin.
Bila air ketuban habis otomatis tali pusat terkompresi antara badan janin dengan ibunya. Kondisi ini bisa mengakibatkan janin “tercekik” karena suplai oksigendari ibu ke janin terhenti. Gejalanya dapat diketahui melalui cardiotopografi (CTG). Mula-mula detak jantung janin kencang, lama-kelamaan malah menurun hingga di bawah rata-rata.
8.      Kehamilan lewat waktu (postterm)Kehamilan lebih dari 42 minggu. Jika kehamilan telah lewat waktu, plasenta akan mengalami penuaan sehingga fungsinya akan berkurang. Janin akan kekurangan asupan nutrisi dan oksigen. Cairan ketuban bisa berubah menjadi sangat kental dan hijau, akibatnyacairan dapat terhisap masuk ke dalam paru-paru janin. Hal ini bisa dievaluasi melalui USG dengan color doppler sehingga bisa dilihat arus arteri umbilikalis jantung ke janin. Jika demikian, maka kehamilan harus segera dihentikan dengan cara diinduksi. Itulah perlunya taksiran kehamilan pada awal kehamilan dan akhir kehamilan melalui USG.
9.      Infeksi saat hamil.
Saat hamil ibu sebaiknya menjaga kondisi tubuh denganbaik guna menghindari berbagai infeksi bakteri atau virus. Demam tinggi pada ibu bisa mengakibatkan janin tidak tahan akan panas tubuh ibunya.
10.  Kelainan kromosom.
Kelainan kromosom termasuk penyakit bawaan. Kematian janin akibat kelainan genetik biasanya baru terdeteksi saat kematian sudah terjadi, melalui otopsi bayi. Akan tetapi, jarang dilakukan pemeriksaan kromosom saat janin masih dalam kandungan. Selain biayanya mahal, juga sangat berisiko. Karena harus mengambil air ketuban dari plasenta janin sehingga berisiko besar janin terinfeksi, bahkan lahir prematur.
Tanda-tanda
1.Tidak ada gerakan janin.
Pada ibu hamil yang sudah merasakan gerakan bayi (biasanya pada kehamilan lebih dari 5 bulan) perlu diwaspadai jika dalam sehari tidak merasakan gerakan bayi. Gerakan bayi yang normal minimal 10 kali dalam sehari.
2.Waspadai tanda-tanda “kritis” pada bayi.
Sebelum bayi tidak bergerak sama sekali, biasanya didahului tanda-tanda “kritis”. Timbul gerakan yang sangat hebat atau sebaliknya, gerakannya semakin pelanatau lemah.
3.Bila kehamilan tak kunjung membesar.
Ibu harus curiga bila pertumbuhan kehamilan tidak sesuai bulannya.
Apabila terjadi hal-hal tersebut di atas, sebaiknya segera periksa ke dokter walaupun belum waktunya pemeriksaan ulang. Sehingga sebelum terjadi kematian dokter bisa melakukan tindakan pencegahan.
Bila sudah diketahui penyebabnya, maka dokter tentu juga akan mengatasi penyebab. Misalkan apabila ada infeksi pada ibu, maka akan diobati infeksinya. Kalau ibunya diabetes, maka diobati diabetesnya.
Dengan bantuan optimal, maka gawat janin bisa membaik kembali. Karena untuk janin dengan tanda-tanda gawat janin tak selamanya harus dikeluarkan. Karena dikeluarkan pun harus melihat usia kehamilan. Kalau usianya masih muda, tidak mungkin ia dilahirkan segera. Pada usia kehamilan muda paru-paru belum terbentuk sempurna. Sehingga di luar pun tak mungkin bisa bernafas. Jadi, yang dilakukan dokter adalah mempertahankan dengan mengatasi penyebabnya tersebut.
Jika tak tertolong lagi, maka janin yang sudah meninggalharus segera dilahirkan. Proses kelahiran dilakukan secara normal agar tidak terlalu merugikan ibu. Operasi hanya dilakukan jika ada halangan untuk melahirkan normal. Misalnya, bayinya mati dalam posisi melintang, ibu mengalami preeklampsia, plasenta previa dan sebagainya, maka operasi cesar terpaksa dilakukan.
Pengaruh Pada Ibu dengan janin yang meninggal sebaiknya jangan dibiarkan di dalam rahim lebih dari 2 minggu, sebab jika terlalu lama akan memengaruhi faktor-faktor pembekuan darah ibu. Zat pembekuan darah atau fibrinogen bisa turun dan menyebabkan darah sulit membeku. Bila ini terjadi, akan berakibat fatal kala ibu melahirkan. Jika fibrinogen rendah, maka perdarahan yang terjadi pada proses persalinan akan sulit berhenti dan hal ini berakibat fatal bagi si ibu. Untuk mencegahnya, sebelum dilakukan tindakan persalinan, bila telah diketahui janin sudah meninggal, maka dokter akan mengecek fibrinogennya. Kalau fibrinogennya turun, maka harus diberi obat fibrinogen. Namun kasus janin meninggal dalam kandungan lebih dari 2 minggu sangat jarang terjadi. Biasanya tubuh ibu akan terjadi reaksi penolakan dan timbul proses persalinan. Akan tetapi ada ibu yang tidak menyadari kalau janinnya sudah meninggal. Bahkan sampai janinnya membatu atau mengeras. Hal ini terjadi karena kurang pekanya si ibu, terlebih lagi karena tak ada reaksi penolakan pada tubuhnya. Biasanya terjadi pada ibu yang tidak menyadari kalau ia hamil, begitu menyadari janinnya sudah meninggal dalam kandungan atau bahkan telah membatu. Mengeluarkan janin yang telah membatu lebih berisiko, bisa terjadi komplikasi, misalnya ada perobekan di dinding rahim dan jalan lahir. Adverise

Bayi meninggal dalam kandungan atau bahasa medisnya intra uterin fetal death yang artinya janin meninggal pada usia kandungan lebih dari 20 minggu ( Trimester kedua).jika terjadi sebeluum terimester kedua maka disebut keguguran.Penyebabmeninggalnya bayi pada usia kandungan trimester kedua ini bisa disebabkan oleh:
  • Ibu menderita hipertensi
  • eklampsia atau preeklampsi
  • Obat-obatan
  • Trauma
    Kematian bayi dalam kandungan dapat terjadi apabila ibu pernah mengalami trauma benturan dsb
  • Pendarahan
    Apabila terjadi pendarahan akibat adanya plasenta yang menutup jalan lahir (plasenta previa )atau bisa juga kerena terlepasnya plasenta dari tempat implantasi palsenta sebelum bayi lahir maka akan menyebabkan penurunan Hb janin dan jika tidak segera ditangani dapat memicu kematian janin dalam kandungan.
  • Gerakan janin yang hiperaktif
    gerakan janin yang berlebihan bisa menjadi pemicu kematian janin karena terpelintirnya tali pusat yang menghubungkan janin dengan ibunya,ini bisa terjadi jika gerakan janin hanya satu arah saja.dengan terputusnya tali pusat tersebut maka suplai makanan,oksigen serta lainnya yang dibutuhkan janin selama dalam kandungan akan tersumbat.
  • Postterm
    Kehamilan lewat waktunya akan mengakibatkan plasenta menua dan fungsinya berkurang.air ketuban bisa saja berubah jadi kental dan terhisap masuk kedalam paru janin.untuk menghindari ini sebaiknya secara rutin periksa kehamilan ibu dengan USG.
  • Ibu mengalami infeksi waktu hamil
Bagaimana cara mengetahui kematian janin dalam kandungan ?
untuk mengetahui kematian janin dalam kandungan ibu harus selalu memperhatikantanda-tanda berikut ini:
  • Gerakan bayi tidak ada sebaiknya ibu memperhatikan gerakan bayinya setiap hari,apabila bayi tidak ada gerakan dalam sehari,maka segera periksa ke bidan atau okter kandungan terdekat.Normal gerakan bayi 1 hari itu minimal 10 kali.tidak adanya gerakan bayi juga merupakan salah satu tanda-tanda bahaya pada kehamilan
  • Kenali tanda kritis bayi ibu harus paham bahwa sebelum gerakan bayi hilang didahului tanda kritis,seperti gerakan kuat maupun sebaliknya,semakin melemahnya atau pelan gerakannya
  • Kehamilan yang tidak berkembang
    ibu harus mencurigai jika kehamilannya tidak kunjung membesar atau usia kehamilan tidak sesuai dengan bulannya.jika ini terjadi segera periksakan meskipun itu belum waktunya.agar dapat diberikan pertolongan secepatnya.
  • Uteus menegang/menjadi kaku
o   Nyeri perut yang disertai syok.
Sebelum terlambat ibu harus selalu menjaga dan memperhatikan kondisi kesehatannya,dengan secara rutin memeriksakan kandungan,dan komsumsi makanan bergisi serta hindari apa saja yang bisa menyebabkan bayi meninggal dalam kandungan itu sendiri.
Jika terjadi bayi meninggaldalam kandungan sebaiknya jangan terlalu lama untuk mendapatkan pertolongan,karena kematian bayi yang lebih dari 2 minggu dalam kandungan akan mempengaruhi zat pembekuan darah ibu.sehingga pada saat melahirkan bayi tersebut akan terjadi pendarahan yang susah untuk dihentikan dan akan fatal akibatnya bagi ibu.segera lahirkan jika sudah terlanjur janin meninggal jangan tunggu lama.
5 PENYEBAB UTAMA KEMATIAN IBU MELAHIRKAN
1.      PerdarahanPerdarahan yang tidak terkontrol menyumbang sekitar 20%-25% kematian ibu sehingga merupakan risiko yang paling serius.Kehilangan darah dapat terjadi selama kehamilan, selama persalinan, atau setelah persalinan (post partum). Perdarahan post partum yang menyebabkan kehilangan darah lebih dari 1.000 mL adalah penyebab utama kematian. Meskipun dapat dicegah, tidak semua kasus perdarahan post partum dapat dihindari. Atonia uterus (uterine atony), yaitu kondisi di mana otot rahim kehilangan kemampuan untuk berkontraksi setelah melahirkan, adalah penyebab utama perdarahan post partum. Penyebab lain yang lebih jarang adalah retensi plasenta (retained placenta), di mana seluruh atau sebagian jaringan plasenta tertinggal di rahim. Penyebab trauma termasuk luka, ruptur uterus, dan inversi uterus.Komplikasi dari perdarahan postpartum termasuk hipotensi ortostatik, anemia, dan kelelahan, yang dapat menyulitkan perawatan pasca melahirkan. Anemia post-partum meningkatkan risiko depresi post-partum. Perdarahan post partum dapat ditangani dengan pengelolaan yang melibatkan obat-obatan dan perawatan non obat.
2.      Eklampsia
Eklampsia adalah kondisi yang ditandai dengan gagal ginjal, kejang, dan koma saat kehamilan atau pasca melahirkan, sehingga dapat berujung pada kematian ibu. Eklampsia biasanya terjadi setelah trimester ketiga kehamilan, mayoritas pada saat persalinan (intrapartum) dan 48 jam pertama setelah melahirkan (postpartum).Eklampsia merupakan komplikasi berat dari kondisi yang mendahuluinya, yaitu preeklampsia. Preeklampsia, juga dikenal sebagai toxemia kehamilan, ditandai dengan hipertensi (tekanan darah tinggi), proteinurea (protein dalam urin), edema (pembengkakan) umum, dan kenaikan berat badan secara tiba-tiba. Preeklampsia dapat diidentifikasi pada masa kehamilan dengan memantau tekanan darah, tes protein urin, dan pemeriksaan fisik. Deteksi dini dan pengelolaan preeklampsia dapat mencegah perkembangannya menjadi eklampsia.
3.      Sepsis
Sepsis maternal adalah infeksi bakteri yang parah, biasanya pada uterus (rahim), umumnya terjadi beberapa hari setelah melahirkan. Sepsis dapat menyebar dari rahim ke saluran tuba dan ovarium atau ke dalam aliran darah. Infeksi yang terjadi setelah melahirkan ini juga dikenal sebagai sepsis puerperalis. Penyebab utamanya adalah bakteri yang disebut Group A Streptococcus (GAS) yang memasuki tubuh melalui kulit atau jaringan yang rusak saat melahirkan.
4.      InfeksiInfeksi yang menyebabkan kematian ibu termasuk dalam kelompok penyebab tidak langsung. Infeksi yang paling umum adalah malaria, tuberkulosis, dan hepatitis. Ibu hamil yang terinfeksi penyakit-penyakit tersebut biasanya memiliki gejala yang lebih parah dan memiliki tingkat risiko tinggi keguguran, kematian janin, persalinan prematur, berat badan lahir rendah, kematian bayi dan/atau ibu.
5.      Malaria merupakan infeksi parasit yang ditularkan oleh nyamuk dan menewaskan lebih dari 1 juta orang setiap tahunnya. Penyakit ini lebih umum pada wilayah Indonesia bagian timur. Malaria dapat dicegah dengan obat-obatan yang tepat dan perangkat antinyamuk.
6.      Tuberkulosis (TB) adalah infeksi yang termasuk dalam target kedaruratan WHO sejak tahun 2005. Sekitar sepertiga dari populasi dunia (diperkirakan sekitar 1,75 miliar) terinfeksi basil tuberculosis. Penyakit ini dapat diperberat oleh kehamilan dan menyebabkan kematian ibu dan/ atau janin. TB dapat disembuhkan dengan obat-obatan seperti Rifampisin, INH dan Etambutol.
7.      Hepatitis
Hepatitis adalah infeksi virus yang menyerang fungsi hati. Virus hepatitis B (HBV) adalah penyebab paling umum hepatitis pada ibu hamil, namun virus hepatitis E (HEV) adalah yang paling dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian ibu. Hepatitis E akut dapat memberikan gejala tiba-tiba dalam beberapa hari atau minggu sebelum kematian. Hepatitis dapat dicegah dengan kewaspadaan, imunisasi, dan sanitasi yang lebih baik.
8.      Gagal Paru
Kegagalan pernafasan akut adalah salah satu penyebab umum kedaruratan kebidanan yang berisiko kematian tinggi. Penyebab umum kegagalan pernapasan akut adalah embolisme paru (pulmonary embolism) dan paling sering terjadi pada periode setelah melahirkan (postpartum). Kehamilan meningkatkan risiko embolisme paru karena peningkatan kemampuan untuk membekukan darah (yang bermanfaat untuk menghentikan perdarahan saat persalinan). Sayangnya, kemampuan ini juga meningkatkan risiko trombosis (bekuan) darah yang secara mendadak menyumbat arteri paru-paru–kondisi yang disebut embolisme paru.
Tanda-tanda embolisme paru termasuk sesak napas tiba-tiba dan tanpa sebab, nyeri dada, dan batuk yang dapat disertai darah. Embolisme paru dapat dikelola segera dengan obat-obatan anti trombosis dan perawatan kedaruratan.
BAB III
PENUTUP
3.1         KESIMPULAN
Justifikasi kematian atau biasa dikatakan alasan atau penyebab kematian, seringkali diabaikan. Dari beberapa penelitian ditemukan bahwa ada beberapa penyebab kematian yang sebenarnya sering kita temukan namun kita abaikan.
Dalam justifikasi kematian, diketahui penyebab umum kematian terdiri dari dua prnyebab utama  yakni kematian yang disebabkan oleh individu tersebut dan juga kematiaan yang diesebabka oleh faktor-faktor lainnya.
Salah satu hal yang menarik dari justifikasi kematian adalah jumlah ibu dan anak yang kematiannya semakin tahun semakin meningkat terutama pada ibu hamil.
Perlu diadakan pengawasan terhadap hal-hal yang diduga menjadi penyebab kematian terutama dalam kebidanan adalah kematian dari ibu dan anak.

ETIKA DAN KAIDAH HUKUM PRAWAT

ETIKA DAN KAIDAH HUKUM PERAWAT



KONSEP ETIKA DAN KAIDAH HUKUM PERAWAT
1.1.       Pengertian Etika
Pengertian Etika
-          Menurut Araskar dan David (1978) etika adalah  kebiasaaan, model prilaku, atau standar yang diharapkan dan kriteria tertentu untuk suatu tindakan.
-          Etika adalah ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaaan       ( Berters, 2000)
-          Etika adalah disiplin yang mempelajari tentang baik atau buruk sikap dan perilaku manusia ( Dir.Jan keperawatan, 2001)
-          Penggunaan istilah etika sekarang ini banyak diartikan sebagai motif atau dorongan yang mempengaruhi prilaku. (Dra. Hj. Mimin Emi Suhaemi, 2001)
-          Etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos, yang menurut Araskard dan David (1978) bearti ”kebiasaan”. “model perilaku” atau standar yang diharapkan dan kriteria tertentu untuk suatu tindakan. Penggunaan istilah etika sekarang ini banyak di artikan sebagai motif atau dorongan yang mempengaruhi perilaku (Dra.Mimin Emi Suhaemi, 2002 : 7)
-          Etika merupakan studi tentang perilaku, karakter dan motif yang baik serta ditekankan pada penetapan apa yang baik dan berharga bagi semua orang
-          Istilah etika digunakan untuk menunjuk suatu kode perilaku yang bersifat foemal dari suatu kelompok profesi tertentu ( mis: profesi keperawatan )
Etika adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi perilaku seseorang yang berkaitan dengan tin­dakan yang baik dan buruk yang dilakukan oleh seseorang dan merupakan suatu kewajiban dan tanggung jawab moral.
Dari konsep pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana sepatutnya manusia hidup di dalam masyarakat yang menyangkut aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang menentukan tingkah laku yang benar, yaitu:
-           Baik dan buruk
-          Kewajiban dan tang­gung jawab
b.   Moral
-          Berasal dari bahasa Latin : “Mos/Mores” artinya kebiasaaan dan adat
-          Moral berhubungan dengan status individu tentang suatu yang benar/salah dari perilaku karakter, sifat (Konier, 1997)
-          Moral adalah status perilaku yang diharapkan oleh masyarakat
-          Hukum adalah norma yang dibentuk oleh lembaga berwenang yang pelaksanaanya dapat dituntut/ dipaksakan sebagai pelanggaran terhadap norma ini, dan mendapat sanksi.
c.    Perbedaan moral dan etika
Moral
Etika
-          Prinsip dan aturan perilaku yang benar
-          Privat
-          Komitmen terhadap prinsip dan nilai dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari
-          Proses jawaban formal         untuk menetapkan perilaku yang benar
-          Ditetapkan oleh profesi
-          Penyelidikan/studi tentang prinsip dan nilai
-          Proses mempertanyakan & mungkin ada yang berubah
-          Etika khusus yang menerapkan nilai-nilai dalam bidang pelayanan kesehatan yang dilandasi oleh nilai2 individu & masyarakat yg berlaku
-          Penilaian terhadap gejala kesehatan baik yang disetujui/tidak, serta rekomendasi bagimana bersikap/bertindak yg pantas dlm bidang kesehatan

d.   Prinsip-prinsip etika
1)      Otonomi (Autonomy)
Otonomi bearasal dari bahasa latin , yaitu autos, yang berarti sendiri dan nomos yang berarti aturan. Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompoten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus di hargai oleh orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau di pandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembawaan diri. Praktek profesional  merefleksikan otonomi saat  perawat menghargai hak-hak  klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya .Contoh tindakan yang tidak memperhatikan otonomi adalah ;
1.         Melakukan sesuatu bagi klien tanpa mereka diberi tahu sebelumnya.
2.        Melakukan sesuatu tanpa memberi informasi relevan yang penting       diketahui klien dalam membuat suatu pilihan.
3.        Memberitahukan klien bahwa keadaannya baik, padahal terdapat       gangguan atau penyimpangan.
4.        Tidak memberikan iformasi yang lengkap walaupun klien menghendaki        informasi tersebut.
5.        Memaksa klien memberi informasi  tentang hal-hal yang mereka sudah        tidak bersedia menjelaskannya.
2)     Berbuat  Baik (Beneficience).
Beneficince  berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan pencegahan dari kesalahan  atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan  kebaikan oleh diri sendiri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan  kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi.
Contoh :
Perawat menasehati klien tentang program latihan untuk memperbaiki kesehatan secara  umum, tetapi tidak seharusnya melakukannya apabila klien dalam keadaan risiko serangan jantung. 
3)     Keadailan  (Justice)
Prinsip keadilan di butuhkan untuk tercapai  yang sama dan adil terhadap orang lain yang   menjunjung prinsip -prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini di refleksikan dalam praktek professional ketika perawat bekerja utuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
Contoh :
Seorang perawat sedang bertugas  sendirian di  suatu unit Rumah Sakit kemudian ada seorang klien yang baru masuk bersamaan dengan klien yang memerlukan bantuan perawat tersebut. Agar perawat tidak menghindar dari suatu klien, kepada klien lainnya, maka perawat seharusnya mempertimbangkan faktor-faktor dalam situasi  tersebut, kemudian bertindak berdasarkan pada prinsip keadilan .
4)    Tidak Merugikan (Nonmaleficience)
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan  bahaya /cedera fisik dan psikologis pada klien. (Johnson, 1989) menyatakan bahwa prinsip untuk tidak melukai orang lain berbeda dan lebih keras dari pada prinsip melakukan yang baik.
Contoh :
Seorang klien mempunyai kepercayaan bahwa pemberian tranfusi darah bertentangan dengan keyakinannya, mengalami pendarahan hebat akibat penyakit hati yang kronis. Sebelum kondisi klien bertambah berat, klien sudah memberikan pernyataan tertulis kepada dokter bahwa ia tidak mau di lakukan transafuse darah. Pada suatu saat, ketika kondisi klien bertambah buruk dan terjadilah pendarahan hebat, dokter seharusnya menginstruksikan untuk transfuse darah. Dalam hal ini akhirnya transfuse darah tidak di berikan karena prinsip beneficience walaupun sebenarnya pada saat bersamaan terjadi penyalahan prinsip maleficience.
5)     Kejujuran (Veracity)
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini di perlukan oleh    pemberi pelayanan kesehatan. Untuk  menyampaikan kebenaraan pada setiap  klien dan untuk meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity  berhubungan dengan kemampuan seseorang  untuk mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi akurat, komprensensif, dan objektif  untuk memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan  dirinya selama menjalani perawatan. Walaupun demikian, terdapat beberapa argument  mengatakan adanya batasan untuk kejujuran seperti jika kebenaran akan kesalahan prognosis klien untuk pemulihan atau adanya hubungan paternalistic bahwa ”doctors knows best” sebab individu memiliki otonomi, mereka memiliki hak untuk mendapatkan informasi penuh tentang kondisinya. Kebenaran merupakan dasar dalam membangun hubungan saling percaya.
Contoh:
Ny.M seorang  wanita lansia dengan usia 68 thn, dirawat di RSUD dr.T.C. Hillers dengan berbagai macam fraktur, karena kecelakaan mobil. Suaminya juga ada dalam kecelakaan tersebut masuk rumah sakit yang sama dan meninggal. Ny.M bertanya berkali-kali kepada perawat tentang keadaan suaminya. Dokter ahli bedah berpesan kepada perawatnya  untuk tidak mengatakan kematian suami Ny.M  kepada Ny.M. Perawat tidak di beri alasan apapun untuk petunjuk tersebut  dan mengatakan keprihatinannya kepada perawat kepala ruangan, yang mengatakan bahwa instruksi dokter harus diikuti. Perawat dalam hal ini dihadapkan oleh konflik kejujuran.
6)         Menepati Janji (Fidelity)
Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetian, adalah kewajiban seorang untuk tetap mempertahankan komitmen yang di buatnya. Kesetian menggambarkan kepatuhan perawat terhadap kode etik keperawatan, yang menyatakan bahwa tanggung jawab dasar dari perawat adalah untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan, dan meminimalkan penderitaan.
7)     Kerahasiaan (Confidentiality)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga privasi  klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh di baca dalam rangka pengobatan klien, tidak ada seorangpun yang memperoleh informasi tersebut kecuali jika diizinkan klien dengan bukti persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan, menyampaikan pada teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga kesehatan lain harus dihindari.                                                                                                                     
8)     Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas atau tanggung gugat artinya seorang perawat dalam setiap tindakannya harus dapat memberikan alasan. Seorang perawat bertanggung gugat  terhadap diri sendiri, profesi, klien, sesama karyawan dan masyarakat.  Seperti jika salah dalam memberi dosis obat kepada klien, maka seorang perawat bertanggung gugat kepada  klien yang menerima obat,  dokter yang memberi tugas delegatif atau program terapi, profesi serta  masyarakat. Tanggung gugat  professional memiliki tujuan :
1)        Mengevaluasi atau mengkaji ulang terhadap praktek yang telah ada.
2)      Mempertahankan standart perawatan.
3)      Memudahkan dalam merefleksikan pemikiran, dan pertumbuhan    pribadi.
4)      Memberikan dasar pengambilan keputusan etis.

II.    ETIKA KEPERAWATAN
2.1.            Pengertian perawat
      Menurut hasil Lokakarya Keperawatan Nasional tahun 1983, keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik yang sakit maupun yang sehat yang mencakup seluruh siklus kehidupan manusia.
      Keperawatan merupakan bentuk asuhan keperawatan kepada individu, keluarga dan masyarakat berdasarkan ilmu dan seni dan mempunyai hubungan perawat dan pasien sebagai hubungan professional (kozier,1991).
      Perawat adalah seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan kewenangan untuk memberikan asuhan keperawatan pada orang lain berdasarkan ilmu dan kiat yang dimilikinya dalam batas-batas kewenangan yang dimilikinya.  (PPNI, 1999 ; Chitty, 1997). 
      Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1239/MenKes/SK/XI/2001 tentang Registrasi dan Praktik Perawat pada pasal 1 ayat 1)



2.2. Tugas Perawat
1)  Care Giver
-       Memperhatikan individu dalam konteks sesuai kehidupan klien, perawat harumemperhatikan klien berdasarkan kebutuhan significant dari klien.
-       Perawat menggunakan Nursing Process untuk mengidentifikasi diagnosa keperawatan, mulai dari masalah fisik (fisiologis) sampai masalah-nasalah psikologis
-       Peran utamanya adalah memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat sesuai diagnosa masalah yang terjadi mulai dari masalah yang bersifat sederhana sampai yang kompleks.
2)Client Advocate
-       Perawat bertanggung jawab untuk membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi lain yang diperlukan untuk mengambil persetujuan (inform concent) atas tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya.
-       Perawat harus mempertahankan dan melindungi hak-hak klien. Hal ini harus dilakukan karena klien yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak petugas kesehatan. Perawat adalah anggota tim kesehatan yang paling lama kontak dengan klien, leh karena itu perawat harus membela hak-hak klien.
3)Conselor
-    Tugas utama perawat adalah mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap keadaan sehat sakitnya.
-    Adanya perubahan pola interaksi ini merupakan “Dasar” dalam merencanakan metoda untuk meningkatkan kemampuan adaptasinya.
-    Konseling diberikan kepada idividu/keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan pengalaman yang lalu
-    Pemecahan masalah difokuskan pada; masalah keperawatan, mengubah perilaku hidup sehat (perubahan pola interaksi)


4)      Educator
-    Peran ini dapat dilakukan kepada klien, keluarga, team kesehatan lain, baik secara spontan (sat interaksi) maupun formal (disiapkan).
-    Tugas perawat adalah membantu klien meningkatkan pengetahuankesehatan dalam upaya meningkatkan kesehatan, gejala penyakit sesuai kondisi dan tindakan yang spesifik
-    Dasar pelaksanaan peran adalah intervensi dalam NCP.
5)Coordinator
-    Peran perawat adalah mengarahkan, merencanakan, mengorganisasikan pelayanan dari semua anggota team kesehatan. Karena klien menerima pelayanan dari banyak profesioanl, misal; pemenuhan nutrisi. Aspek yang harus diperhatikan adalah; jenisnya, jumlah, komposisi, persiapan, pengelolaan, cara memberikan, monitoring, motivasi, dedukasi dan sebagainya.
6)      Collaborator
-    Dalam hal ini perawat bersama klien, keluarga, team kesehatan lain berupaya mengidentifikasi pelayanan kesehatan yang diperlukan termasuk tukar pendapat terhadap pelayanan yang dipelukan klien, pemberian dukungan, paduan keahlian dan keterampilan dari bebagai profesional pemberi pelayanan kesehatan.
7)       Consultan
-    Elemen ini secara tidak langsung berkaitan dengan permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan keperawatan yang diberikan. Dengan peran ini dapat dikatakan perawatan adalah sumber informasi ang berkaitan dengan kondisi spesifik klien.
8)      Change Agent
-    Element ini mencakup perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis dalam berhubungan denan klien dan cara pemberian keperawatan kepada klien.

Menurut Lokakarya Nasional tentang keperawatan tahun 1983, peran perawat untuk di Indonesia disepakati sebagai :


1)     Pelaksana Keperawatan
Perawat bertanggungjawab dalam memberikan pelayanan keperawatan dari yang sederhana sampai yang kompleks kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat. Ini adalah merupakan peran utama dari perawat, dimana perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang profesional, menerapkan ilmu/teori, prinsip, konsep dan menguji kebenarannya dalam situasi yang nyata, apakah krieria profesi dapat ditampilkan dan sesuai dengan harapan penerima jasa keperawatan.
2)   Pengelola (Administrator)
Sebagai administrator bukan berarti perawat harus berperan dalam kegiatan administratif secara umum. Perawat sebagai tenaga kesehatan yang spesifik dalam sistem pelayanan kesekatan tetap bersatu dengan profesi lain dalam pelayanan kesehatan. Setiap tenaga kesehatan adalah anggota potensial dalam kelompoknya dan dapat mengatur, merancanankan,melaksanakan dan menilai tindakan yang diberikan mengingat perawat merupakan anggota profesional yang paling lama bertemu dengan klien, maka perawat harus merencanakan, melaksanakan, dan mengatur berbagai alternatif terapi yang  harus diterima oleh klien. Tugas ini menuntut adanya kemampuan managerial yang handal dari perawat.
3)   Pendidik
Perawat bertanggungjawab dalam hal pendidikan dan pengajaran ilmu keperawatan kepada klien, tenaga keperawatan maupun tenaga kesehatan lainnya. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam keperawatan adalah aspek pendidikan, karena perubahan tingkah laku merupakan salah satu sasaran dari pelayanan keperawatan. Perawat harus bisa berperan sebagai pendidik bagi individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
4)   Peneliti
Seorang perawat diharapkan dapat menjadi pembaharu (inovator) dalam ilmu keperawatan karena ia memiliki kreatifitas, inisiatif, cepat tanggap terhadap ragsangan dari lingkungannya. Kegiatan ini dapat diperoleh melalui penelitian. Penelitian, pada hakekatnya adalah melakukan evaluasi, mengukur kemampuan, menilai, dan mempertimbangkan sejauh mana efektifitas tindakan yang telah diberikan. Dengan hasil penelitian, perawat dapat mengerakkan orang lain untuk berbuat sesuatu yang baru berdasarkan kebutuhan, perkembangan dan aspirasi individu, keluarga, kelompok atau masyarakat. Oleh karena itu perawat dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan, memanfaatkan media massa atau media informasi lain dari berbagai sumber. Selain itu perawat perlu melakukan penelitian dalam rangka; mengembangkan ilmu keperawatan dan meningkatkan praktek profesi keperawatan.

2.3.        Fungsi Perawat
Ada tiga jenis fungsi perawat dalam melaksanaan perannya, yaitu :
1)        Fungsi Independent
Dimana perawat melaksanakan perannya secara mandiri, tidak tergantung pada orang lain. Perawat harus dapat memberikan bantuan terhadap adanya penyimpangan atau tidak terpenuhinya kebutuahn dasar manusia (bio-psiko-sosial/kultural dan spiritual), mulai dari tingkat indiovidu utuh, mencakup seluruh siklus kehidupan, sampai pada tingkat masyarakat, yang juga tercermin pada tidak terpenuhinya kebutuhan dasar.Kegiatan ini dilakukan dengan diprakarsai oleh perawat, dan perawat bertangungjawab serta bertanggung gugat atas rencana dan keputusan tindakannya.
2)      Fungsi Dependent
Kegiatan ini dilaksanakan atas pesan atau intruksi dari orang lain.
3)      Fungsi Interdependent
Fungsi ini berupa “kerja tim”, sifatnya saling ketergantungan baik dalam keperawatan maupun kesehatan.

2.4.        Etika keperawatan
a.      Pengertian
Etika keperawatan adalah nilai-nilai dan prinsip yang diyakini oleh profesi keperawatan dalam melaksanakan tugasnya yang berhubungan dengan pasien,masyarakat,hubungan perawat dengan teman sejawat maupun dengan organisasi profesi dan juga dalam pengaturan praktik keperawatan itu sendiri (berger dan williams,1999).
Etika keperawatan merupakan suatu acuan dalam melaksanakan praktik keperawatan. Etika keperawatan berguna untuk pengawasan terhadap kompetensi profesional, tanggung jawab, tanggung gugat, dan untuk pengawasan umum dari nilai positif profesi keperawatan (berger dan williams,1999)
Etika profesi keperawatan adalah filsafat yang mengarahkan tanggung jawab moral yang mendasari pelaksanaan praktik keperawatan.
Etik profesi keperawatan adalah kesadaran dan pedoman yang mengatur nilai-nilai moral di dalam melaksanakan kegiatan profesi keperawatan, sehingga mutu dan kualitas profesi keperawatan tetap terjaga dengan cara yang terhormat. Etik keperawatan merupakan kesadaran dan pedoman yang mengatur prinsip-psrinsip moral dan etik dalam melaksanakan kegiatan profesi keperawatan, sehingga mutu dan kualitas profesi keperawatan tetap terjaga dengan cara yang terhormat.
b.   Tujuan
Menurut american ethics commision bureau on teaching, tujuan etika profesi keperawatan adalah mampu:
1.           Mengenal dan mengidentifikasi unsur moral dalam praktik keperawatan
2.         Membentuk strategi/cara dan menganalisis masalah moral yang terjadi dalam  praktik keperawatan
3.         Menghubungkan prinsip moral/pelajaran yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan kepada Tuhan, sesuai dengan kepercayaannya
2.5.     KODE ETIK KERAWATAN
a.   Pengertian
Kode etik adalah pernyataan standar  professional yang digunakan sebagai pedoman perilaku dan menjadi kerangka kerja untuk membuat keputusan.
Kode etik keperawatan merupakan bagian dari etika kesehatan yang menerapkan nilai etika terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat. Kode etik keperawatan di Indonesia telah disusun oleh Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia melalui musyawarah nasional PPNI di Jakarta pada tanggal 29 November 1989.
Kode etik keperawatan merupakan aturan yang berlaku untuk seorang perawat Indonesia dalam melaksanakan tugas/fungsi perawat adalah kode etik perawat  nasional Indonesia, dimana seorang perawat selalu berpegang teguh terhadap kode etik sehingga kejadian pelanggaran etik dapat dihindarkan. Syarat kode etik agar efektif :
a)         Harus dibuat sendiri oleh profesi yang bersangkutan
b)         Mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab dan tanggung gugat pada para anggota profesi
c)         Merupakan “self regulation” dari regulasi
d)         Pelaksanaannya harus diawasi terus-menerus
e)         Direvisi sesuai kebutuhan perkembangan profesi
b.   Tujuan Kode  Etik Keperawatan
Pada dasarnya, tujuan kode etik keperawatan adalah upaya agar perawat, dalam menjalankan tugas dan fungsinya, dapat menghargai dan menghormati martabat manusia.
Tujuan kode etik keperawatan tersebut adalah sebagai berikut:
o    Merupakan dasar dalam mengatur hubungan antar perawat, klien/pasien, teman sebaya, masyarakat, dan unsure profesi baik dalam profesi keperawatan sendiri maupun hubungannya dengan profesi lain diluar profesi keperawatan.
o    Menginformasikan kepada masyarakat dan membantu mereka memahami tentang standar dan perilaku professional perawat
o    Sebagai pernyataan komitmen dari kelompok profesi keperawatan kepada masyarakat yang dilayaninya
o    Sebagai pedoman moral bagi para perawat dalam kehidupan profesionalnya
o    Menuntun profesi keperawatan dalam mengatur dirinya sendiri
o    Merupakan standar untuk mengatasi masalah yang dilakukan oleh praktisi keperawatan yang tidak mengindahkan dedikasi moral dalam pelaksanaan tugasnya.
c.    Kode Etik Keperawatan  Indonesia
Mukadimah
Bagian I : Tanggung jawab terhadap individu, keluarga dan masyarakat
Pasal :
1.        Tanggung jawab yang bersumber pada kebutuhan pasien
2.      Menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan agama
3.      Sikap tulus ihlas, bermartabat dan menghormati tradisi luhur keperawatan
4.      Kerjasama dalam segala upaya kesehatan
Bagian II : Tanggung jawab terhadap tugas
5.      Menjaga mutu pelayanan dan kejujuran
6.      Memegang rahasia jabatan perawat
7.       Menghormati norma-norma kemanusiaan
8.      Sikap nondiskriminatif dalam asuhan
9.      Mengutamakan keselamatan pasien
Bagian III : Tanggung jawab terhadap sesama perawat
10.   Memelihara hubungan baik dengan kolega
11.     Penyebaran pengetahuan, keterampilan dan pengalaman
Bagian IV : Tanggung jawab terhadap profesi keperawatan
12.    Meningkatkan kemampuan professional
13.    Menjunjung tinggi nama baik profesi
14.   Berperan aktif dalam pembakuan pendidikan dan pelayanan
15.    Membina dan menjaga organisasi profesi
Bagian V : Tanggung jawab terhadap pemerintah, bangsa dan Negara
16.   Melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam kesehatan
17.    Menyumbangkan pikiran kepada pemerintah dalam mengembangkan pelayanan

Sekilas

Penanganan pada Orang Pingsan

Penanganan pada Orang Pingsan     Kita sering menjumpai orang yang tiba-tiba pingsan, seperti saat upacara bendera, saat lomba grak ...

Popular Posts